Rabu, 19 Juni 2019

Cerita Dua Ekor Kodok Bertetangga


Dua Kodok Bertetangga


Dua ekor kodok hidup bertetangga. Mereka tinggal tidak berjauhan, tapi tidak juga berdekatan. Kodok yang satu tinggal di sebuah kolam yang asri. Kolam itu berada di tepi hutan, tidak jauh dari jalan raya tapi tersembunyi dari pandangan. Kodok yang satu lagi tinggal di kubangan yang keruh. Kubangan itu berada di tepi jalan raya, tidak jauh dari hutan dan sangat terbuka terlihat dari mana-mana. Kodok yang satu khawatir dengan keselamatan temannya. Ia berusaha membujuknya untuk tinggal bersamanya, berbagi kolam yang asri dengan dirinya. ”Kenapa kau tidak tinggal bersama diriku? Aku bersedia membagi tempat tinggalku untukmu.”. ”Kenapa?” jawab kodok yang satunya. ”Kenapa aku harus pindah dari tempatku ini? Aku merasa nyaman tinggal di sini.”
”Tempatmu tinggal sangat berbahaya!” kata kodok yang tinggal di kolam. ”Ah! Sudah seumur hidupku aku tinggal di sini. Aku suka pemandangannya. Aku suka melihat kesibukan jalan raya. Aku suka melihat orang-orang hilir mudik. Aku suka melihat pedati-pedati pulang dan pergi. Kuda, keledai, kerbau, kambing bergiliran lewat. Aku suka keramaian,” jawab kodok temannya. ”Justru itulah kenapa berbahaya! Dengarkan aku, dan tinggal di tempatku yang lebih aman.” ”Ah!” tukas kodok yang tinggal di kubangan, ”aku senang di sini, dan aku bisa menjaga diriku sendiri!”

Waktu berlalu, dan mereka masih bertetangga baik. Tapi pada suatu hari, dua pedati besar lewat berpapasan. Dua ekor lembu besar menarik pedati itu. Jalan itu tidak cukup besar untuk dua pedati lewat bersamaan. ”Awas hati-hati!” seru Pak Sais pengendali pedati. Ia memandu pedatinya dengan cekatan, sebelah roda pedati melaju di pinggir jalan. Malang tak dapat ditolak, rodanya menggilas kubangan tempat tinggal si kodok.

”Tolong aku!” seru si kodok menjerit. Kodok temannya yang tinggal di kolam melompat tergesa-gesa berusaha menolongnya, tapi semua sudah terlambat. Roda pedati yang lebar dan besar menggilas kubangan. Air kubangan dan seluruh isinya berhamburan habis tak bersisa. Kubangan air itu sekarang hanya menjadi lubang dangkal berlumpur. Kodok mencari temannya tapi tak dapat menemukannya dimanapun.
Dengan sedih ia berkata, ”Oh kawanku yang malang! Jika saja kamu mau mendengarkan aku!”

Pesan dari cerita ini : orang yang keras kepala, yang sama sekali tidak mau mendengarkan nasihat orang lain, seringkali celaka karena ulahnya sendiri.

Cerita Sinderela


Sinderela


Di sebuah kerajaan, ada seorang anak perempuan yang cantik dan baik hati. Ia tinggal bersama ibu dan kedua kakak tirinya, karena orangtuanya sudah meninggal dunia. Di rumah tersebut ia selalu disuruh mengerjakan seluruh perkerjaan rumah. Ia selalu dibentak dan hanya diberi makan satu kali sehari oleh ibu tirinya. Kakak-kakaknya yang jahat memanggilnya ”Cinderela”. Cinderela artinya gadis yang kotor dan penuh dengan debu. ”Nama yang cocok buatmu !” kata mereka. 

Setelah beberapa lama, pada suatu hari datang pengawal kerajaan yang menyebarkan surat undangan pesta dari Istana. ”Asyik… kita akan pergi dan berdandan secantik-cantiknya. Kalau aku jadi putri raja, ibu pasti akan gembira”, kata mereka. Hari yang dinanti tiba, kedua kakak tiri Cinderela mulai berdandan dengan gembira. Cinderela sangat sedih sebab ia tidak diperbolehkan ikut oleh kedua kakaknya ke pesta di Istana. ”Baju pun kau tak punya, apa mau pergi ke pesta dengan baju sepert itu?”, kata kakak Cinderela.

Setelah semua berangkat ke pesta, Cinderela kembali ke kamarnya. Ia menangis sekeras-kerasnya karena hatinya sangat kesal. ”Aku tidak bisa pergi ke istana dengan baju kotor seperti ini, tapi aku ingin pergi..” Tidak berapa lama terdengar sebuah suara. ”Cinderela, berhentilah menangis.” Ketika Cinderela berbalik, ia melihat seorang peri. Peri tersenyum dengan ramah. ”Cinderela bawalah empat ekor tikus dan dua ekor kadal.” Setelah semuanya dikumpulkan Cinderela, peri membawa tikus dan kadal tersebut ke kebun labu di halaman belakang. ”Sim salabim!” sambil menebar sihirnya, terjadilah suatu keajaiban. Tikus-tikus berubah menjadi empat ekor kuda, serta kadal-kadal berubah menjadi dua orang sais. Yang terakhir, Cinderela berubah menjadi Putri yang cantik, dengan memakai gaun yang sangat indah. Karena gembiranya, Cinderela mulai menari berputar-putar dengan sepatu kacanya seperti kupu-kupu. Peri berkata,”Cinderela, pengaruh sihir ini akan lenyap setelah lonceng pukul dua belas malam berhenti. Karena itu, pulanglah sebelum lewat tengah malam. ”Ya Nek. Terimakasih,” jawab Cinderela. Kereta kuda emas segera berangkat membawa Cinderela menuju istana.

Setelah tiba di istana, ia langsung masuk ke aula istana. Begitu masuk, pandangan semua yang hadir tertuju pada Cinderela. Mereka sangat kagum dengan kecantikan Cinderela. ”Cantiknya putri itu! Putri dari negara mana ya ?” Tanya mereka. Akhirnya sang Pangeran datang menghampiri Cinderela. ”Putri yang cantik, maukah Anda menari dengan saya ?” katanya. ”Ya…,” kata Cinderela sambil mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Mereka menari berdua dalam irama yang pelan. Ibu dan kedua kakak Cinderela yang berada di situ tidak menyangka kalau putrid yang cantik itu adalah Cinderela. Pangeran terus berdansa dengan Cinderela. ”Orang seperti andalah yang saya idamkan selama ini,” kata sang Pangeran. Karena bahagianya, Cinderela lupa akan waktu. Jam mulai berdentang 12 kali. ”Maaf Pangeran saya harus segera pulang..,”. Cinderela menarik tangannya dari genggaman pangeran dan segera berlari ke luar Istana. Di tengah jalan, sepatunya terlepas sebelah, tapi Cinderela tidak memperdulikannya, ia terus berlari. Pangeran mengejar Cinderela, tetapi ia kehilangan jejak Cinderela. Di tengah anak tangga, ada sebuah sepatu kaca kepunyaan Cinderela. Pangeran mengambil sepatu itu. ”Aku akan mencarimu,” katanya bertekad  dalam hati. Meskipun Cinderela kembali menjadi gadis yang penuh debu, ia amat bahagia karena bisa pergi pesta.

Esok harinya, para pengawal yang dikirim Pangeran datang ke rumah-rumah yang ada anak gadisnya di seluruh pelosok negeri untuk mencocokkan sepatu kaca dengan kaki mereka, tetapi tidak ada yang cocok. Sampai akhirnya para pengawal tiba di rumah Cinderela. ”Kami mencari gadis yang kakinya cocok dengan sepatu kaca ini,” kata para pengawal. Kedua kakak Cinderela mencoba sepatu tersebut, tapi kaki mereka terlalu besar. Mereka tetap memaksa kakinya dimasukkan ke sepatu kaca sampai lecet. Pada saat itu, pengawal melihat Cinderela. ”Hai kamu, cobalah sepatu ini,” katanya. Ibu tiri Cinderela menjadi marah,” tidak akan cocok dengan anak ini!”. Kemudian Cinderela menjulurkan kakinya. Ternyata sepatu tersebut sangat cocok. ”Ah! Andalah Putri itu,” seru pengawal gembira. ”Cinderela, selamat..,” Cinderela menoleh ke belakang, peri sudah berdiri di belakangnya. ”Mulai sekarang hiduplah berbahagia dengan Pangeran. Sim salabim!.,” katanya.

Begitu peri membaca mantranya, Cinderela berubah menjadi seorang Putri yang memakai gaun pengantin. ”Pengaruh sihir ini tidak akan hilang walau jam berdentang dua belas kali”, kata sang peri. Cinderela diantar oleh tikus-tikus dan burung yang selama ini menjadi temannya. Sesampainya di Istana, Pangeran menyambutnya sambil tersenyum bahagia. Akhirnya Cinderela menikah dengan Pangeran dan hidup berbahagia.


TAMAT
EMOGA TERHIBUR


Ikan Ajaib


Ikan Ajaib

Pada zaman dahulu, di sebuah negeri yang terletak di Timur Tengah (Arabia) ada seorang raja yang suka bersantap dengan makanan yang lezat dan nikmat. Suatu ketika Raja ingin bersantap dengan hidangan ikan yang lezat. Para pelayan dikerahkan untuk mengumpulkan ikan sebanyak-banyaknya. Ikan itu dikumpulkan di dapur istana. Seorang pelayan melihat ada ikan kecil yang manis sekali diantara kumpulan ikan di dapur, ikan kecil itu ternyata masih hidup. Si pelayan merasa kasihan. Dia berpikir, jumlah ikan sangatlah banyak, tentu Raja tidak akan merasa kehilangan jika ia mengambil ikan kecil itu. Lalu dimasukkannya ikan itu ke dalam jambangan.

Beberapa hari kemudian Permaisuri melihat ikan itu. Ia sangat tertarik. Dibawanya ikan itu ke istana dijadikan binatang hias kesayangannya.
Sungguh ajaib, hanya dalam tempo seminggu ikan itu sudah menjadi besar. Jambangan tak cukup lagi memuat tubuhnya. Terpaksa Permaisuri memasukkannya ke dalam akuarium. Namun beberapa hari kemudian ikan itu sudah membesar lagi. Tubuhnya lebih panjang dari akuarium, terpaksa ia dipindah ke dalam kolamistana. Ikan itu nampak senang dan badannya terus saja bertambah besar. Karena tubuhnya yang terus membesar maka ikan itu tidak lagi nampak manis, melainkan nampak menyeramkan.
Ketika proses pembesaran sudah selesai dia selalu nampak merenung di sudut kolam. Tak mau berenang lagi.
“Apa yang kau pikirkan?” tanya Permaisuri saat melihat ikannya nampak sedih.
Ikan itu mengangkat hidungnya dan menjawab. “Aku bosan sendirian di dalam kola mini. Tak ada yang bisa kukerjakan. Aku ingin kawin, tapi aku tak mau kawin dengan ikan, aku ingin kawin dengan seorang gadis muda.” Permaisuri sangat kaget mengetahui ikan itu ternyata dapat berbicara, lebih kaget lagi manakala mengetahui permintaan ikan yang dianggap sangat mustahil itu. Ikan ingin kawin dengan manusia? Meski permintaan itu sangat tidak masuk akal, tapi Permaisuri tetap berusaha memenuhinya. Ia menyuruh pengawal untuk menyebarkan pengumuman kepada seluruh rakyatnya bahwa siapa saja gadis yang mau kawin dengan ikan kesayangannya maka akan dihadiahi harta berlimpah. Tetapi siapakah yang mau kawin dengan seekor ikan? Tentu saja tidak ada yang bersedia.

Sementara itu dinegeri lain, ada seorang janda tua yang kejam. Dia mendengar pengumuman sang Permaisuri. Janda ini punya anak kandung, seorang gadis berwajah jelek dan berkelakuan buruk. Dia juga punya anak tiri bernama Karin. Ayah Karin, suami si janda sudah lama meninggal dunia. Karin selalu diperlakukan dengan kejam dan tidak berperikemanusiaan.

Karin menangis tersedu-sedu karena ibu tirinya itu bermaksud menyerahkannya kepada Permaisuri untuk dikawinkan dengan seekor ikan.
Sebelum dibawa ke istana Karin disuruh mencuci semua pakaiannya dan mandi yang bersih.
Usai mencuci dan mandi ia duduk termenung dalam kesedihan. “Mengapa aku harus kawin dengan seekor ikan?” gumamnya putus asa. Percuma menolak perintah ibunya, pasti ibu tirinya itu akan menghajar dan menyiksanya habis-habisan. Tak terasa air matanya bercucuran.
Saat termenung sedih tiba-tiba seekor katak meloncat dari balik batu. “Gadis cantik, kenapa kau menangis?” Ketika Karin menceritakan nasibnya yang malang katak itu justru mentertawakannya. “Gadis cantik,” kata si Katak. “Jangan khawatir, sebenarnya ibu tirimu hendak mencelakakanmu, tapi nasibmu bahkan akan menjadi baik dan menyenangkan. Dengarkan pesanku ini.” Katak itu memberikan tiga butir kerikil kepada Karin sembari berkata, “Sebelum menikah dengan ikan itu, duduklah di kolam. Dia akan muncul kepermukaan. Pada saat itu masukkan sebutir kerikil ini ke dalam mulutnya. Dia tidak akan bisa menelanmu, tapi awas, jangan sampai kau tertidur di tepi kolam.”

Demikianlah, setelah persiapan selesai Karin dibawa pergi ke istana. Sampai di istana dia diberi pakaian yang indah-indah, diberi perhiasan dan disediakan untuknya pondok mungil di tepi kolam.  Permaisuri berkata, “Kau harus duduk sendirian di tepi kolam, ikanku akan melihat calon istrinya.” Dengan hati berdebar Karin duduk di tepi kolam. Tak berapa lama muncullah sebuah kepala yang bentuknya mengerikan. Secepatnya ia lempar sebutir kerikil ke dalam mulut ikan itu. Ikan itu menyelam tapi mendadak muncul lagi dengan mulut menganga. Karin melemparkan butir kerikil kedua dan ikan itu menyelam lagi.
Tak lama kemudian ikan itu muncul lagi, sekuat tenaga Karin melemparkan butir kerikil ketiga ke dalam mulut ikan. Kali ini ikan itu tidak menyelam lagi melainkan terdengar suara menggelegar, air kolam bergolak lalu dihadap Karin berdiri seorang Pangeran yangsangat tampan. “Benarkah penglihatan saya ini…” gumam Karin seakan tak percaya. “Benar, aku sebenarnya seorang Pangeran yang kena sihir oleh orang jahat. Berkat bantuanmu aku kembali menjadi manusia. Terima kasih Karin.”

Atas bantuan Permaisuri kedua remaja yang saling jatuh cinta ini dinikahkan, lalu diantarkan ke negeri asal Pangeran. Mereka hidup berbahagia. Sementara ibu tiri Karin menyesal bukan kepalang, ternyata nasib Karin lebih baik ketimbang nasib anak-anaknya.

TAMAT
SELAMAT MEMBACA

Kancil & Kura-kura


Kancil & Kura-kura

Suatu hari Kura Kura dan Kancil berdebat tentang siapa yang lebih cepat. Mereka menyetujui jalur tertentu untuk bertanding dan mulailah mereka bertanding. Sang Kancil melesat dengan cepat dan setelah merasa jauh melampaui Kura Kura dia berhenti sejenak dibawah pohon untuk beristirahat sebelum memulai lagi perlombaannya. Sang Kancil terduduk dibawah pohon dan akhirnya tertidur. Dan Kura Kura berhasil melampauinya dan keluar sebagai juara.

Sang Kancil sangat kecewa dengan kekalahannya lalu melakukan analisis penyebabnya. Dia sadar bahwa dia kalah karena terlampau percaya diri, kurang hati hati dan terlena. Kalau saja dia bisa lebih waspada maka tidaklah mungkin Kura Kura bisa mengalahkannya. Lalu ditantangnya lagi Kura Kura tersebut untuk melakukan lomba ulang yang disetujui oleh Kura. Dan kali ini, sang Kancil menang mutlak karena dia berlari tanpa henti.
Kali ini sang Kura Kura mulai berpikir dan sadar bahwa tidaklah mungkin berlomba dengan Kancil pada jalur seperti yang lalu. Setelah berpikir keras, kali ini Kura Kura menantang sang Kancil untuk berlomba lagi pada jalur perlombaan yang berbeda.

Sang kancil setuju. Mereka mulai berpacu dan sang Kancil berlari dengan cepat tanpa berhenti sampai akhirnya terpaksa berhenti ditepi sungai, karena harus menyeberang. Rupanya garis finish nya terletak beberapa ratus meter setelah tepi diseberang sungai . Sang Kancil bingung tidak tahu harus berbuat apa….. dan tak lama kemudian muncul Kura Kura menyusul dan dengan santainya menyeberang sampai kegaris finish dan memenangkan pertandingan. Kali ini sang Kancil dan Kura Kura menjadi bersahabat dan mulai memikirkan solusi masalah bersama sama. Keduanya sadar bahwa lomba yang terakhir bisa dilakukan dengan jauh lebih baik.
Jadi mereka memutuskan untuk melakukan perlombaan lagi, cuma kali ini mereka berlari dalam satu team.
Mereka mulai berlari mula mula sang Kancil menggendong Kura Kura sampai ketepi sungai, kemudian disini Kura Kura yang menggendong Kancil untuk menyeberangi sungai. Diseberang satunya Kancil mulai menggendong Kura Kura lagi sampai kegaris finish. Sampai digaris finish keduanya merasa puas karena berhasil tiba dengan waktu yang jauh lebih cepat dari lomba.

~%~TAMAT~%~
~%%~SEMOGA TERHIBUR~%%~

Rebutan Ayam Goreng

Ayam Goreng
  Dalam keadaan lapar, Mimin masuk ke sebuah rumah makan. Ia memesan ayam goreng. Tak lama kemudian sebuah ayam goreng utuh tersaji. Baru saja Mimin hendak memegangnya, seorang pelayan datang tergopoh-gopoh."Maaf mas, kami salah menyajikan. Ayam goreng ini pesanan bapak pelanggan yang di sana", kata pelayan sambil menunjuk seorang pria berbadan kekar dan berwajah preman. Akan tetapi karena sudah terlanjur lapar, Mimin ngotot bahwa ayam goreng itu adalah haknya. Pria bertampang preman itu segera menghampiri meja Mimin dan menggertaknya."Awas kalau kamu berani menyentuh ayam itu...!!! Apapun yang kamu lakukan kepada ayam goreng itu, akan aku lakukan kepadamu. Kamu potong kaki ayam itu, aku potong kakimu. Kamu putus lehernya, aku putuskan lehermu..!!!" Mendengar ancaman seperti itu, Mimin hanya tersenyum sinis sambil berkata, "Silahkan! Siapa taku...???" Lalu Mimin segera mengangkat ayam goreng itu dan menjilati pantatnya. Mimin berkata lagi "sini kalo berani jilatin pantat saya...!!! Hehehe..."

TAMAT

~%~SELAMAT MEMBACA~%~